
Tarakan, 27 Oktober 2025 — Dalam upaya memperkuat tradisi berpikir kritis, rasional, dan beretika di lingkungan akademik, Universitas Borneo Tarakan (UBT) menggelar Kuliah Umum Nasional bertema “Etika Berpikir dalam Demokrasi” pada Senin, 27 Oktober 2025. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 4 Gedung Rektorat UBT ini menghadirkan dua narasumber nasional yang dikenal luas di ranah intelektual dan politik Indonesia, yaitu Bung Rocky Gerung — akademikus, filsuf, dan intelektual publik, serta pendiri Setara Institute & Fellow, dan Ir. Deddy Yevri Hanteru Sitorus, M.A., Anggota Komisi II DPR RI.

Kuliah umum ini menjadi salah satu kegiatan akademik terbesar yang pernah digelar di UBT sepanjang tahun 2025. Ratusan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan hadir memenuhi auditorium hingga area luar ruangan. Antusiasme luar biasa itu menunjukkan bahwa tema etika berpikir dan demokrasi memiliki resonansi yang kuat bagi dunia akademik dan masyarakat Kalimantan Utara.

Acara dibuka dengan sambutan dari Rektor Universitas Borneo Tarakan, Prof. Dr. Yahya Ahmad Zein, S.H., M.H. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa kampus merupakan ruang paling penting dalam membangun kesadaran berpikir kritis dan etika demokrasi.
“Etika demokrasi pasti akan dibahas dari perspektif ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Saya ingin mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen demokrasi, tetapi juga produsen demokrasi,” ujar Prof. Yahya di hadapan para peserta.
Rektor UBT juga menyampaikan apresiasi kepada kedua narasumber atas kesediaannya hadir di Universitas Borneo Tarakan untuk berbagi pandangan dan memperkaya wawasan mahasiswa.

Dalam sesi kuliah umumnya, Rocky Gerung mengajak mahasiswa dan civitas akademika UBT untuk memahami demokrasi dari perspektif etis dan filosofis. Ia menyoroti bahwa demokrasi Indonesia sering kali masih terjebak pada pragmatisme politik dan belum sepenuhnya berakar pada budaya berpikir kritis.
“Kita baru keluar dari Orde Baru, tapi belum sepenuhnya masuk ke Orde Reformasi. Akibatnya, kultur politik kita menjadi pragmatis. Kampus sekarang harus menjadi ruang untuk memfilter rekrutmen kepemimpinan, bukan sekadar mengikuti arus popularitas,” tegasnya.
Rocky kemudian menjelaskan tiga syarat utama bagi lahirnya pemimpin demokratis: etikabilitas, intelektualitas, dan elektabilitas.
“Demokrasi yang sehat tidak cukup dengan elektabilitas. Pemimpin sejati harus lebih dulu lolos uji etikabilitas — bersih secara moral, jujur, dan tidak korup. Setelah itu baru diuji intelektualitasnya, baru terakhir elektabilitasnya,” paparnya.
Ia juga menegaskan pentingnya keberanian berpikir di lingkungan kampus:
“Kampus ditakdirkan untuk mengucapkan pikiran berbeda. Bila hari ini kita mulai berani berpikir jujur tanpa takut diancam, tanpa takut pada undang-undang, maka kecambah pikiran kritis sudah ditanamkan di Universitas Borneo Tarakan,” ujar Rocky yang disambut tepuk tangan panjang para peserta.

Melengkapi pemaparan tersebut, Ir. Deddy Yevri Hanteru Sitorus, M.A., memberikan pandangan dari sudut pandang praktis mengenai tantangan demokrasi di Indonesia saat ini. Menurutnya, demokrasi yang matang menuntut adanya keseimbangan antara moralitas, rasionalitas, dan tanggung jawab publik.“Banyak kebijakan publik kita sering kali terjebak pada romantisme populis tanpa mempertimbangkan rasionalitas dan efektivitas anggaran. Demokrasi sejati harus dibangun di atas nalar sehat dan kejujuran intelektual, bukan hanya pada daya tarik elektoral,” tegasnya.
Deddy juga menekankan bahwa peran generasi muda sangat penting dalam menjaga moralitas politik bangsa. Ia mengajak mahasiswa untuk terlibat aktif dalam proses berpikir dan mengawal nilai-nilai demokrasi agar tetap berpihak pada kepentingan rakyat.

Kegiatan kuliah umum ini diakhiri dengan sesi foto bersama antara Rektor Universitas Borneo Tarakan, kedua narasumber, jajaran dosen, serta ratusan mahasiswa yang hadir. Momen tersebut menjadi simbol kolaborasi antara dunia akademik dan publik intelektual dalam menumbuhkan kesadaran berpikir kritis dan etika demokrasi di kalangan generasi muda Kalimantan Utara.
Melalui kegiatan ini, Universitas Borneo Tarakan menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan ilmu dan nalar kritis di wilayah perbatasan Indonesia. UBT berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan ilmiah yang memperkuat kapasitas berpikir mahasiswa serta menumbuhkan semangat intelektual yang jujur, terbuka, dan beretika.#HMS#ARM#BVL



