Kejar Akreditasi Unggul, Prodi Agribisnis UBT Gelar Workshop Kurikulum Berbasis OBE dan Berorientasi SDGs

Beranda > Berita > Kejar Akreditasi Unggul, Prodi Agribisnis UBT Gelar Workshop Kurikulum Berbasis OBE dan Berorientasi SDGs

TARAKAN, 7 September 2026 – Dalam upaya mewujudkan pendidikan tinggi yang berkualitas dan responsif terhadap tantangan global masa kini, Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan (UBT) menyelenggarakan kegiatan Workshop Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education (OBE) Berorientasi Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan akademis yang strategis ini dilangsungkan di Ruang Rapat Senat, Lantai 4 Gedung Rektorat UBT, pada Senin (7/9/2026).

  

Workshop ini dihadiri secara antusias oleh jajaran dosen dari Fakultas Pertanian UBT, khususnya para tenaga pendidik di lingkungan Program Studi Agribisnis. Sebagai langkah konkret dalam penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT) 2024 yang selaras dengan implementasi Permendikti Sains & Teknologi No. 39 Tahun 2025, UBT secara khusus menghadirkan pakar penyusunan kurikulum terkemuka, yakni Dr. Ir. Mais Ilsan, M.P., Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, sebagai narasumber utama.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerjasama UBT, Dr. Heppi Iromo, S.Pi., M.Si., hadir secara langsung mewakili Rektor UBT untuk membuka dan memberikan arahan krusial pada kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, beliau memberikan sorotan khusus mengenai tantangan tata kelola administratif yang kerap dihadapi program studi saat menghadapi asesmen, serta target besar institusi terhadap status akreditasi Prodi Agribisnis ke depannya.

“Biasanya akreditasi ini kelemahannya di dokumentasi. Jadi kalau mau akreditasi sibuk kita, buka dokumen-dokumen, minta lagi jatah daftar dosen, pusing sudah. Jadi ke depan, administrasi ini harus rapi. Kalau rapi, akreditasi itu gampang,” tegas Dr. Heppi Iromo.

Beliau turut mengapresiasi langkah adaptif dan inovatif dari Fakultas Pertanian yang menyelenggarakan pendampingan kurikulum secara komprehensif demi mencapai standar akreditasi tertinggi.

“Target ke depannya memang harus banyak prodi yang akreditasinya naik. Kita sudah banyak yang berstatus Baik Sekali, ini harus dinaikkan ke Unggul. Terutama Agribisnis ini kan tahun depan sudah mulai prosesnya. Kekurangannya di situ nah itu yang kita cari. Kira-kira bisa di-up tidak nilainya supaya target menjadi Unggul bisa tercapai. Mudah-mudahan ini menjadi ajang peningkatan, terutama di mana kurikulum kita sesuaikan juga dengan kondisi lokal,” tambahnya merujuk pada pentingnya penyelarasan kurikulum dengan muatan kearifan lokal Kalimantan Utara.

Kehadiran Workshop Kurikulum ini diharapkan menjadi katalisator bagi Program Studi Agribisnis UBT dalam mendesain skema pembelajaran yang tidak hanya terstruktur secara sistematis dari hulu ke hilir, melainkan juga benar-benar mengukur capaian lulusan secara presisi sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan industri.

Siklus Terstruktur Menuju Kurikulum Adaptif dan Berdaya Saing

Dalam sesi pemaparan teknis, narasumber Dr. Ir. Mais Ilsan, M.P. memberikan panduan komprehensif terkait “Implementasi Permendikti Sains & Teknologi No. 39/2025 dalam Penyusunan Kurikulum KPT 2024 Berbasis OBE Berorientasi SDGs pada Universitas Borneo Tarakan”. Konsep Outcome-Based Education (OBE) ini menuntut proses akademik yang berpusat pada ketercapaian luaran mahasiswa yang konkret, selaras dengan kebutuhan dunia profesional, serta berpedoman pada prinsip Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Untuk menjamin keberhasilan kurikulum tersebut, penyusunannya harus mematuhi tahapan yang sangat terukur. Berdasarkan materi pemaparan terkait Tindak Lanjut Perbaikan, terdapat lima tahapan utama dalam Siklus Kurikulum Pendidikan Tinggi yang wajib diimplementasikan oleh program studi secara berkesinambungan:

  • Analisis: Tahap awal yang berfokus pada penetapan visi dan misi, analisis kebutuhan sosial maupun industri, hingga merumuskan penetapan profil lulusan.

  • Perancangan: Meliputi penataan komponen kurikulum, penetapan Capaian Pembelajaran Lulusan Program Studi (CPL-PRODI), penentuan bahan kajian, bentuk pengalaman belajar, serta metode penilaian.

  • Pengembangan: Fase krusial untuk menjabarkan CPL menjadi Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) dan Sub-CPMK yang spesifik, penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS), penentuan bobot SKS, serta perancangan instrumen evaluasi (formatif dan sumatif).

  • Pelaksanaan: Tahapan untuk mengidentifikasi potensi hambatan, melakukan sosialisasi dan bimbingan teknis (bimtek) kepada dosen maupun mahasiswa, serta memonitor pelaksanaan kurikulum secara riil.

  • Evaluasi: Langkah terakhir berupa evaluasi formatif dan sumatif terhadap jalannya implementasi kurikulum sebagai bahan perbaikan di masa mendatang.

Rancangan siklus kurikulum yang holistik ini dinilai sangat selaras dengan visi institusi yang disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerjasama, Dr. Heppi Iromo, S.Pi., M.Si. Mengingat mayoritas mahasiswa (hingga 92 persen) berasal dari wilayah Kalimantan Utara, pendekatan akademis yang menitikberatkan pada teori semata sering kali tidak efektif. Oleh karena itu, kurikulum baru ini ditargetkan untuk memperkuat proporsi praktik lapangan, serta diwajibkan untuk mengangkat materi yang relevan dengan pemanfaatan komoditas lokal Kalimantan Utara, ketimbang memaksakan riset komoditas yang tidak memiliki nilai terap di kawasan perbatasan.

Melalui workshop yang terstruktur ini, Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian UBT menaruh optimisme tinggi untuk segera mengesahkan dokumen kurikulum mutakhir. Langkah pembenahan administratif dan substantif ini tidak hanya demi memenuhi kepatuhan regulasi kementerian, tetapi juga sebagai strategi fundamental untuk mencetak lulusan agribisnis yang kompeten, responsif, dan siap membawa Fakultas Pertanian menuju pencapaian akreditasi “Unggul”.

Leave a Reply