Kuliah Umum Wamen Haji dan Umrah RI di UBT: Dorong “Entrepreneurship University” Tangkap Peluang Ekosistem Ekonomi Haji Global

Beranda > Berita > Kuliah Umum Wamen Haji dan Umrah RI di UBT: Dorong “Entrepreneurship University” Tangkap Peluang Ekosistem Ekonomi Haji Global

TARAKAN, 4 Mei 2026 – Universitas Borneo Tarakan (UBT) sukses menyelenggarakan Kuliah Umum yang menghadirkan langsung Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak, S.E., M.E. Bertempat di kampus UBT pada Senin (4/5/2026), acara ini dihadiri para pimpinan dan sivitas akademika UBT. Kuliah umum yang mengangkat tema “Entrepreneurship University: Menyiapkan SDM Unggul dalam Industri Haji Global” ini menyoroti besarnya potensi perputaran ekonomi dalam penyelenggaraan haji dan umrah yang belum sepenuhnya dimaksimalkan oleh pelaku usaha maupun dunia pendidikan di dalam negeri.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Borneo Tarakan, Prof. Dr. Yahya Ahmad Zein, S.H., M.H., menegaskan bahwa kehadiran Wamen Haji dan Umrah sejalan dengan visi UBT yang saat ini tengah bertransformasi menjadi Entrepreneurship University. Beliau menekankan bahwa orientasi pendidikan tinggi di era modern harus bergeser dari sekadar menghasilkan lulusan, menjadi wadah pembentuk wirausahawan tangguh.

“Persoalan perguruan tinggi sekarang tidak hanya mencetak para sarjana, tapi juga bagaimana para sarjana ini siap keluar tidak hanya sebagai pencari kerja, tapi juga pencipta lapangan pekerjaan,” tegas Prof. Dr. Yahya Ahmad Zein.

Lebih lanjut, Rektor UBT menjelaskan bahwa universitas telah mengambil langkah konkret untuk mendukung visi kewirausahaan tersebut. “Kurikulum di Universitas Borneo ini seluruh program studi itu sudah melakukan berbagai macam persiapan, bahkan kita sudah punya buku khusus pedoman kewirausahaan. Semua mahasiswa mendapatkan bekal kewirausahaan masing-masing sekitar 10 persen dari kurikulum tersebut,” tambahnya.

Gayung bersambut, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak, S.E., M.E., dalam pemaparannya membedah secara komprehensif mengenai Grand Design Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah. Berdasarkan data Kementerian Haji dan Umrah, setiap tahunnya terdapat 221.000 jemaah haji dan 2,5 hingga 3 juta jemaah umrah asal Indonesia. Hal ini menciptakan perputaran uang yang sangat raksasa, diperkirakan mencapai Rp97,2 Triliun hingga Rp112,2 Triliun per tahun.

Namun, Dr. Dahnil menyoroti sebuah ironi di mana sebagian besar dana tersebut justru mengalir keluar negeri (cash outflow) dan belum memberikan efek pengganda (multiplier effect) yang optimal bagi ekonomi domestik.

“Hampir 80 persen uang haji itu bentuknya cash outflow, artinya uang yang terbang ke negara luar. Kalau kemudian dia tidak dikelola secara terspesialisasi, itu akan memunculkan kompleksitas yang berbahaya di masa yang akan datang. Kenapa harus ada spesialisasi? Supaya ada yang memikirkan bagaimana caranya supaya cash outflow itu bisa dikurangi, misalnya minimal 50 persen, 50 persen. Jadi tidak sekadar menguntungkan negara luar, tapi dia mempunyai kebermanfaatan atau multiplier effect-nya itu ke ekonomi domestik,” jelas Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak.

Wamenhaj juga memaparkan visi “Tri Sukses Haji dan Umrah”, yang tidak lagi hanya berfokus pada (1) Sukses Ritual, tetapi juga harus mencakup (2) Sukses Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, serta (3) Sukses Peradaban dan Keadaban.

Dalam konteks penyiapan SDM dan spesialisasi inilah peran Perguruan Tinggi menjadi sangat krusial. Dr. Dahnil mendorong agar UBT, khususnya melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) maupun program studi lainnya, dapat merespons peluang ini dengan kajian mendalam atau bahkan memasukkan spesialisasi manajemen ekosistem haji ke dalam kurikulum.

Sejalan dengan Visi Saudi 2030, Arab Saudi menargetkan kapasitas jemaah haji mencapai 5 juta orang per tahun. “Kalau mereka menaikkan kuota kita karena mereka harus menampung 5 juta orang, maka kuota kita bisa sampai 600.000 (jemaah) per tahun. Ini perputaran ekonomi yang luar biasa dan membutuhkan manajemen yang terspesialisasi,” ungkap Dahnil.

Ke depannya, Kementerian Haji dan Umrah RI tengah merancang berbagai upaya awal agar pelaku usaha Indonesia bisa menjadi pemain utama, seperti ekspor bumbu pasta, makanan siap saji, beras untuk jemaah, hingga pembangunan ‘Kampung Haji’ dan penyediaan tenaga kerja profesional dari Indonesia.

Kuliah Umum ini diharapkan menjadi pijakan bagi para pimpinan dan sivitas akademika Universitas Borneo Tarakan untuk mulai mengarahkan riset, inovasi bisnis, dan pengembangan SDM guna menangkap peluang ekonomi dari industri haji global. Dengan predikat Entrepreneurship University, UBT diyakini mampu melahirkan generasi inovator yang tidak hanya sukses di tingkat lokal, tetapi juga berkontribusi pada kemandirian ekonomi nasional di kancah internasional.

Leave a Reply