TARAKAN, 28 April 2026 – Upaya pencegahan radikalisme terus digencarkan melalui pendekatan edukatif dan dialog terbuka. Salah satunya melalui kegiatan kuliah umum bertajuk “Transformasi Ideologi Jamaah Islamiyah: Jalan Menuju Wasathiyah” yang digelar di Rektorat Lantai 4 Universitas Borneo Tarakan (UBT) oleh Satgaswil Kalimantan Utara Densus 88 Anti Teror Polri.

Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 28 April 2026 ini dihadiri langsung oleh Kasatgaswil Kaltara Densus 88 AT Polri, Vanggivantozy Praduga Satria. Dari pihak rektorat, acara ini dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerjasama, Dr. Heppi Iromo, S.Pi., M.Si., serta Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kemahasiswaan, dan Alumni, Rukisah Saleh, S.Pi., MP., Ph.D. Turut hadir pula para mahasiswa, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta perwakilan dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).
Dalam kegiatan tersebut, dibahas secara mendalam mengenai transformasi ideologi yang dialami oleh sejumlah mantan anggota Jamaah Islamiyah. Mereka yang sebelumnya terpapar paham radikal kini telah kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan aktif berperan dalam menyebarkan nilai-nilai kebangsaan serta moderasi beragama (wasathiyah). Kisah para mantan anggota Jamaah Islamiyah ini menjadi bukti bahwa perubahan ke arah yang lebih baik sangat mungkin terjadi. Mereka kini justru menjadi garda terdepan dalam membela NKRI serta memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bahaya radikalisme.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kemahasiswaan, dan Alumni UBT, Rukisah Saleh, S.Pi., MP., Ph.D., dalam sambutan pembukaannya menyampaikan pandangannya mengenai proses transformasi tersebut dengan sebuah analogi. “Terkait dengan transformasi ideologi, saya sedikit menganalogikan transform itu pengubahan. Jadi kalau saya analogikan, kita di hutan belantara ada sebuah pohon yang begitu tumbuh rimbun kemudian akar, dahannya menjalar ke mana-mana. Secara ekologi barangkali itu bagus dalam rangka keseimbangan ekonomi. Tapi kalau pohon itu dirawat, dipupuk, kemudian dipangkas barangkali dahan-dahannya sehingga cantik, saya kira nilai manfaatnya dirasakan jauh lebih penting dibanding tadi keseimbangan ekologi,” ujarnya. Beliau juga menekankan bahwa proses ini membutuhkan tekad yang kuat, menambahkan bahwa, “Kalau kita bicara transformasi itu bukan hal yang instan, bukan seperti kita makan mi, kemudian kita siram, setelah itu langsung kita makan. Itu butuh proses, butuh pendalaman, butuh analisis, butuh komitmen dan butuh konsistensi”.
Sejalan dengan hal tersebut, Kasatgaswil Kaltara Densus 88 AT Polri, Vanggivantozy Praduga Satria, menegaskan pentingnya kolaborasi dengan dunia pendidikan. “Fenomena kembalinya Jemaah Islamiyah ke pangkuan NKRI menjadi studi kasus empiris yang kuat bahwa kelompok yang pernah berada di ujung spektrum paling radikal sekalipun masih memiliki peluang untuk bertransformasi ideologis yang selaras dengan semangat kebangsaan,” tegasnya. Ia juga menyoroti peran strategis perguruan tinggi dalam menangkal radikalisme. “Kami percaya bahwa kampus merupakan benteng intelektual terdepan dalam membentuk generasi yang memiliki critical thinking, pemahaman keagamaan yang wasathiyah, serta rasa nasionalisme yang mendalam,” pungkasnya.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam membangun kepercayaan sosial (social trust) antar elemen bangsa serta menciptakan masyarakat Kalimantan Utara yang lebih tangguh terhadap berbagai bentuk ekstremisme dan fragmentasi sosial.



