TARAKAN, 22 Juni 2026 – Dalam upaya mendorong penguatan sistem layanan kesehatan yang adaptif, berkelanjutan, dan berpusat pada kemanusiaan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan (UBT) sukses menyelenggarakan Kuliah Umum di Ruang Rektorat UBT Lantai 4, Senin (22/6/2026). Mengusung tema strategis “Manajemen Strategis Kebijakan Pelayanan Kesehatan: Transformasi Multidimensi Menuju Kesehatan Populasi yang Berkelanjutan, Resilien, dan Berpusat Pada Kemanusiaan”, acara ini menjadi forum akademik penting bagi civitas akademika dan praktisi kesehatan di wilayah perbatasan.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama UBT, Dr. Heppi Iromo, S.Pi., M.Si., yang hadir mewakili Rektor UBT. Dalam sambutan pembukanya, Dr. Heppi Iromo menyoroti perkembangan krusial dari Fakultas Kedokteran UBT yang usianya masih terbilang sangat muda.
“Fakultas kedokteran ini baru tahun yang ketiga. Tapi di usianya yang muda kita tidak memulai dari awal begitu, ya. Kita butuh loncatan. Kalau mulai dari awal nanti lama begitu, ya. Butuh loncatan makanya kita harus punya pembimbing. Kemudian pada dua tahun ini kita dibimbing dan dibina oleh Fakultas Kedokteran dari Unlam,” terang Dr. Heppi Iromo. Beliau juga mengajak seluruh hadirin untuk memberikan apresiasi berupa tepuk tangan atas komitmen pembinaan yang telah diberikan oleh pihak Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (ULM) demi percepatan kemajuan pendidikan medis di UBT.
Sesi pemaparan materi utama dibawakan oleh Prof. Dr. dr. Syamsul Arifin, M.Pd., FISPH., FISCM., Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat yang saat ini juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan ULM. Dengan mengusung tajuk “Evolusi Ekosistem Kesehatan Masyarakat”, Prof. Syamsul Arifin menguraikan konsep perjalanan panjang kesehatan publik dari masa lampau hingga tantangan di masa depan.
Dalam pemaparannya, Prof. Syamsul menekankan pergeseran paradigma fundamental dari Public Health 1.0 yang bertumpu pada sanitasi dan pengendalian penyakit menular secara tradisional, menuju visi ambisius Public Health 5.0. Pada era 5.0 ini, konsep Planetary Health menjadi sorotan utama, di mana kesehatan manusia dipahami sebagai suatu kesatuan ekosistem yang tidak terpisahkan dari kesehatan planet bumi. Isu-isu makro seperti perubahan iklim, ketahanan sosial, hingga emisi karbon sektor kesehatan—yang dijawab dengan gagasan rumah sakit berkonsep Net-Zero Emission dan Green Hospital—menjadi kunci ketahanan jangka panjang.
Lebih jauh, Prof. Syamsul juga menjelaskan pergeseran fokus layanan medis dari Doctor-Centered yang paternalistik, menuju pendekatan Value-Based Care. Pada model ini, keberhasilan pelayanan tidak lagi sekadar diukur dari banyaknya jumlah tindakan yang diberikan, melainkan dari sejauh mana perawatan tersebut memberikan pengalaman yang positif dan kualitas luaran medis yang bermakna bagi pasien sebagai manusia seutuhnya.
Kuliah umum ini turut membekali para mahasiswa dan calon dokter dengan kompas kompetensi baru untuk menghadapi era modern. Kemampuan literasi data, pemahaman etika penerapan kecerdasan buatan (AI) di dunia medis, hingga kepedulian terhadap isu-isu ekologi kini menjadi syarat mutlak bagi lulusan kedokteran, mendampingi kompetensi klinis yang mumpuni.
Kehadiran kuliah umum ini menegaskan komitmen berkelanjutan Universitas Borneo Tarakan untuk tidak hanya mencetak tenaga kesehatan yang kompeten secara teknis, namun juga memiliki kesadaran sistemik dan ketahanan adaptif dalam merespons lanskap kesehatan global yang kian kompleks.



