Tarakan, 28 September 2026 – Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan (UBT) menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk “Lead Yourself First: Membangun Mindset, Karakter dan Leadership untuk Masa Depan” dengan menghadirkan praktisi dari dunia usaha dan dunia kerja, Dr. (Cand) Daendels Sabono, S.E., M.Ak., yang merupakan HR People Development PT Mitrabara Adiperdana Tbk.
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Fakultas Pertanian UBT dan dihadiri Dekan Fakultas Pertanian Abdul Rahim, S.P., M.Si., Ph.D., beserta jajaran Fakultas Pertanian. Kuliah umum menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan dan pengalaman praktis secara langsung dari praktisi yang memiliki pengalaman di bidang pengembangan sumber daya manusia, kepemimpinan, dan dunia kerja.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Pertanian UBT Abdul Rahim menyampaikan bahwa kegiatan kuliah umum merupakan salah satu upaya fakultas untuk menghadirkan perspektif dari dunia usaha dan dunia kerja ke lingkungan akademik.
“Selama ini dalam kegiatan perkuliahan sehari-hari, mahasiswa lebih banyak berinteraksi dengan dosen. Oleh karena itu, melalui kegiatan ini kita menghadirkan pembicara atau narasumber dari luar kampus agar mahasiswa mendapatkan wawasan dan pengalaman yang berbeda,” ujar Abdul Rahim.
Menurutnya, kehadiran praktisi menjadi penting karena mahasiswa tidak hanya membutuhkan pengetahuan akademik, tetapi juga perlu memahami pengalaman dan tuntutan yang dihadapi ketika memasuki dunia kerja.
Terlebih, narasumber yang dihadirkan memiliki pengalaman di bidang leadership atau kepemimpinan serta bekerja dalam bidang people development di PT Mitrabara Adiperdana Tbk. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memberikan wawasan baru kepada mahasiswa mengenai bagaimana membangun kapasitas diri sebelum nantinya memimpin orang lain.
Abdul Rahim berharap mahasiswa dapat menyimak materi yang disampaikan dengan baik serta mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kampus maupun ketika memasuki dunia kerja.
“Harapan saya, seluruh mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini dapat menyimak materi dengan baik dan mampu mempraktikkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kampus maupun ketika memasuki dunia kerja,” lanjutnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi “Lead Yourself First: Membangun Mindset, Karakter dan Leadership untuk Masa Depan” oleh Dr. (Cand) Daendels Sabono, S.E., M.Ak. Materi dimoderatori oleh Mohammad Wahyu Agang, S.Hut., M.P., dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian UBT.
Membangun Kepemimpinan Dimulai dari Diri Sendiri
Dalam pemaparannya, Daendels mengajak mahasiswa untuk memahami bahwa kepemimpinan tidak selalu dimulai dari kemampuan memimpin orang lain. Sebaliknya, kepemimpinan dapat dimulai dari kemampuan seseorang untuk memimpin dirinya sendiri.
Materi Lead Yourself First mengarahkan mahasiswa untuk membangun lima fondasi utama, yakni self-awareness, growth mindset, leadership, action and habits, serta future self. Kelima aspek tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengembangan diri menuju pribadi yang lebih siap menghadapi masa depan.
Pada bagian self-awareness, mahasiswa diajak untuk mengenali diri sendiri, termasuk memahami kekuatan, nilai-nilai yang dimiliki, serta tujuan yang ingin dicapai. Kesadaran terhadap diri menjadi langkah awal sebelum seseorang dapat menentukan arah pengembangan dirinya.
Selanjutnya, mahasiswa diperkenalkan dengan konsep growth mindset, yaitu cara pandang bahwa kemampuan seseorang dapat terus dikembangkan melalui proses belajar, latihan, pengalaman, serta evaluasi terhadap kesalahan.
Pesan tersebut diperkuat melalui perbedaan antara pola pikir fixed mindset dan growth mindset. Pernyataan seperti “saya tidak bisa” diarahkan menjadi “saya belum bisa”, sehingga tantangan dan kesalahan tidak dipandang sebagai akhir, tetapi sebagai bagian dari proses belajar dan perbaikan.
Materi juga menekankan pentingnya karakter melalui discipline, initiative, responsibility, dan accountability. Disiplin diterapkan dengan melakukan hal-hal yang memang harus dilakukan, sementara inisiatif mendorong seseorang untuk tidak selalu menunggu arahan. Di sisi lain, tanggung jawab berkaitan dengan kesediaan memiliki konsekuensi atas tindakan yang dilakukan.
Dalam materi tersebut, kehidupan kampus juga diposisikan sebagai ruang latihan sebelum mahasiswa memasuki dunia kerja. Berbagai aktivitas yang dijalani mahasiswa dapat menjadi sarana membangun kemampuan profesional.
Deadline menjadi latihan disiplin, tugas kelompok menjadi ruang untuk membangun teamwork, organisasi menjadi sarana mengembangkan leadership, sementara konflik dapat menjadi kesempatan untuk melatih kemampuan problem solving.
Mahasiswa juga diajak memahami pentingnya collaboration, critical thinking, dan problem solving dalam menghadapi persoalan. Salah satu simulasi yang diberikan menggambarkan situasi ketika seorang anggota kelompok terlambat menyelesaikan tugas sehingga berpotensi menghambat pekerjaan dan deadline kelompok.
Dalam menghadapi situasi tersebut, mahasiswa diarahkan untuk melakukan tindakan pertama dengan berkomunikasi secara langsung, memahami penyebab permasalahan, mengingatkan komitmen, membagi tanggung jawab berdasarkan kekuatan masing-masing anggota, serta melakukan monitoring dan evaluasi melalui pembaruan progres secara berkala.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan posisi atau jabatan, tetapi juga kemampuan mengambil tindakan, berkomunikasi, membagi tanggung jawab, serta memastikan seluruh anggota dapat berkontribusi.
Selain kepemimpinan dan karakter, mahasiswa juga mendapatkan pemahaman mengenai personal branding. Dalam materi, personal branding ditekankan untuk dibangun melalui kompetensi, pengalaman, integritas, tindakan nyata, dan konsistensi.
Mahasiswa didorong untuk terlebih dahulu mengembangkan kemampuan teknis maupun soft skills yang relevan sebelum membangun citra diri di ruang publik. Reputasi tidak hanya dibentuk melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten.
Pengalaman, proyek, hasil kerja, pembelajaran, dan pencapaian juga dapat didokumentasikan sebagai bagian dari portofolio. Dengan demikian, personal branding tidak dibangun secara instan, melainkan melalui proses pengembangan kompetensi dan pengalaman yang dilakukan secara berkelanjutan.
Pada bagian akhir, mahasiswa diajak melakukan refleksi mengenai kebiasaan yang selama ini dimiliki, potensi diri yang dapat dikembangkan, serta gambaran mengenai versi terbaik diri mereka di masa depan.
Peserta juga diperkenalkan dengan konsep 30 Days Challenge, yakni membangun perubahan melalui satu kebiasaan selama 30 hari dengan tahapan plan, track, adjust, dan achieve. Pendekatan ini menekankan bahwa perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dapat dilakukan melalui langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa masa depan dibangun dari tindakan yang dilakukan hari ini. Kepemimpinan dimulai dari tindakan kecil, proses belajar, kemauan untuk berkembang, serta keberanian mengambil langkah pertama.
Kegiatan kuliah umum kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab antara mahasiswa dan narasumber. Sesi ini menjadi ruang bagi mahasiswa Fakultas Pertanian UBT untuk menggali lebih jauh berbagai pengalaman praktis dan penerapan konsep kepemimpinan, pengembangan diri, serta kesiapan menghadapi dunia kerja.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Pertanian UBT terus mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga membangun karakter, kemampuan kepemimpinan, pola pikir berkembang, serta kesiapan menghadapi tantangan dunia kerja dan masa depan.





