TARAKAN, 17 September 2026 – Dalam upaya mencetak generasi muda yang melek finansial dan cerdas berinvestasi, Kelompok Studi Pasar Modal atau Stock Exchange Study Community of UBT (SESCO UBT) sukses menyelenggarakan acara berskala besar bertajuk “Road to Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026”. Mengambil titik lokasi di Ruang Auditorium Lantai 4 Gedung Rektorat Universitas Borneo Tarakan, agenda Day 1 ini dilangsungkan secara meriah pada Rabu, 16 September 2026, mulai pukul 13.30 hingga 16.00 WITA.
Kegiatan edukasi dan literasi pasar modal ini berhasil menyedot antusiasme yang luar biasa dengan dihadiri oleh sedikitnya 500 peserta. Ratusan peserta tersebut tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa internal UBT, tetapi juga melibatkan elemen eksternal seperti pelajar dari SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, dan SMA Muhammadiyah Tarakan, serta perwakilan mahasiswa dari Politeknik Bisnis Kaltara dan Universitas Terbuka (UT).
Acara ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan akademis UBT, yang disebutkan dalam pembukaan antara lain Wakil Rektor 3 UBT, Bapak Rukisah; Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UBT, Prof. Dr. E. Muhammad Nur Utomo; Wakil Dekan 3 FEB UBT, Dr. N. Taruna; jajaran Pembina SESCO UBT, yakni Suriya Ningsih, S.E., M.M. dan Nurshia, S.E., M.M.; serta Direktur Utama SESCO UBT, Aulia.

Ketua Panitia Road to CMSE 2026, Ilham Malik A.N. Nugroho, dalam laporan pembukanya menekankan pentingnya edukasi pasar modal secara dini, terutama di tengah maraknya jebakan investasi bodong dan fenomena judi online yang menyasar anak muda. Ilham menitipkan pesan filosofis yang kuat kepada para peserta.
“Usia itu seperti es, dipakai tidak dipakai tetap mencair. Oleh karena itu, investasi yang terbaik bagi kita semua adalah investasi pada pengetahuan dan kompetensi,” tegas Ilham, memotivasi peserta untuk tidak menyia-nyiakan masa muda dan mulai membekali diri dengan kecerdasan finansial.
Senada dengan semangat tersebut, Pembina SESCO UBT, Suriya Ningsih, S.E., M.M., dalam sambutannya mengungkapkan bahwa Road to CMSE memiliki tujuan ganda. Selain untuk mendongkrak tingkat literasi dan inklusi investasi di Kalimantan Utara, acara ini juga dirancang untuk membuka cakrawala karier mahasiswa.
“Kegiatan ini membuka wawasan bahwa pasar modal bukan sekadar sarana investasi, tetapi juga membuka peluang profesi yang sangat luas ke depannya, baik itu sebagai pialang (broker), analis, maupun konsultan keuangan,” jelas Suriya Ningsih di hadapan ratusan peserta.
Berbagai keuntungan eksklusif (benefit) juga diberikan kepada para peserta yang hadir, di antaranya fasilitas gratis pembukaan rekening saham, kesempatan mendapatkan top up Rekening Dana Nasabah (RDN), akses bergabung dalam grup komunitas investor SESCO UBT, serta fasilitas snack dan e-sertifikat.
Sesi Pemaparan Materi: Cerdas Finansial, Waspada Kejahatan, dan Praktik Investasi Saham
Memasuki sesi inti, acara Road to Capital Market Summit & Expo 2026 ini menghadirkan tiga pakar profesional di bidang jasa keuangan dan pasar modal.
Kepala Divisi PEPK OJK Kaltim-Kaltara, Yulianta, tampil sebagai pembicara dengan membawakan materi bertajuk “Pahlawan Finansial Masa Depan: Eksplorasi Ekosistem Keuangan”. Dalam paparannya, Yulianta menyoroti adanya ketimpangan (gap) di kalangan pelajar dan mahasiswa, di mana tingkat inklusi keuangan sudah sangat tinggi mencapai 92,76%, namun tingkat literasinya baru berada di angka 62,72%.
Untuk itu, Yulianta mengingatkan generasi muda agar membenahi mindset keuangan dengan mendahulukan kebutuhan pokok (needs) ketimbang menuruti gengsi dan gaya hidup (wants) seperti FOMO, YOLO, maupun doom spending. Beliau membagikan formula jitu pengelolaan keuangan 10-20-30-40, yang terdiri dari alokasi 10% untuk kebaikan/sosial, minimal 20% untuk masa depan (investasi/dana darurat), maksimal 30% untuk cicilan hutang produktif, dan 40% untuk kebutuhan hidup masa kini.
Lebih lanjut, OJK memberikan peringatan keras kepada mahasiswa agar menjauhi jebakan pinjaman online (pinjol) ilegal, investasi bodong berskema Ponzi, serta ilusi dari judi online yang berkedok game. “Judi online bukan jalan pintas jadi kaya, tapi jalan tol menuju kemiskinan dan bui,” tegas paparan Yulianta, yang juga mengingatkan bahwa riwayat kredit yang buruk akibat gagal bayar pinjol dapat terekam di SLIK OJK dan menghambat karier masa depan.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kalimantan Timur, Ferdinan Sihombing, memberikan pencerahan terkait instrumen pasar modal. Beliau menjelaskan perbedaan mendasar antara sekadar menabung (saving) yang rentan tergerus inflasi, dengan berinvestasi (investment) yang bertujuan melipatgandakan aset di masa depan.
Ferdinan mengedukasi peserta mengenai ragam produk pasar modal yang aman, mulai dari Saham, Surat Hutang, hingga Reksadana & ETF. Beliau memberikan contoh konkret bahwa melalui pasar modal, mahasiswa bisa menjadi “pemilik” dari 962 perusahaan besar yang produknya lekat dengan keseharian mereka, seperti perusahaan telekomunikasi, gaya hidup, ritel, hingga perbankan. Untuk menginspirasi peserta, Ferdinan turut mengangkat kisah sukses tokoh investor nasional seperti Lo Kheng Hong dan Sandiaga Uno yang membuktikan bahwa investasi saham jangka panjang adalah salah satu kunci kemapanan finansial.
Guna menjembatani teori dan praktik, Branch Representative Phintraco Sekuritas, Ega Priamay, hadir memfasilitasi mahasiswa dalam pengaplikasian investasi secara langsung. Melalui layanan dari Phintraco Sekuritas, para peserta diarahkan untuk membuka Rekening Dana Nasabah (RDN) secara gratis, sehingga mereka dapat langsung mempraktikkan ilmu yang didapat dan resmi menjadi investor saham di pasar modal Indonesia.
Melalui sinergi kuat antara UBT, OJK, BEI, dan Phintraco Sekuritas, kegiatan ini diharapkan mampu mencetak generasi mahasiswa Kalimantan Utara yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki ketahanan finansial, melek investasi, dan terhindar dari berbagai modus kejahatan keuangan digital.(mam/mam/bvl)




