TARAKAN – Universitas Borneo Tarakan (UBT) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat budaya akademik, mengembangkan tradisi keilmuan, serta meningkatkan kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan daerah melalui penyelenggaraan Pekan Orasi Ilmiah Universitas Borneo Tarakan Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai Senin hingga Rabu, 26–28 Oktober 2026, ini menjadi wadah strategis bagi para dosen yang telah menyelesaikan pendidikan doktoral (S3) untuk memperkenalkan, menyampaikan, dan mendiseminasikan hasil penelitian serta pemikiran ilmiah mereka kepada sivitas akademika dan masyarakat luas.
Pekan Orasi Ilmiah diselenggarakan sebagai salah satu bentuk nyata komitmen Universitas Borneo Tarakan dalam mendorong penguatan kualitas sumber daya manusia, khususnya tenaga pendidik yang memiliki kompetensi akademik dan keahlian pada berbagai bidang ilmu pengetahuan. Melalui kegiatan ini, hasil penelitian yang diperoleh selama menempuh pendidikan doktoral diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari pencapaian akademik individu, tetapi juga dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi pengembangan ilmu pengetahuan, peningkatan kualitas pendidikan, serta penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Selama tiga hari pelaksanaan, rangkaian kegiatan diselenggarakan melalui dua sesi setiap harinya, yakni sesi pagi dan sesi siang. Setiap sesi menghadirkan lima orang orator dari berbagai disiplin ilmu untuk menyampaikan gagasan, hasil penelitian, inovasi, serta pandangan akademik berdasarkan bidang keahlian masing-masing. Dengan format tersebut, Pekan Orasi Ilmiah memberikan ruang bagi para dosen untuk berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat interaksi ilmiah lintas disiplin di lingkungan Universitas Borneo Tarakan.
Kegiatan ini juga menjadi momentum penting untuk memperlihatkan kekayaan potensi akademik yang dimiliki Universitas Borneo Tarakan sebagai perguruan tinggi negeri yang berada di wilayah perbatasan Indonesia. Beragam topik yang diangkat mencerminkan perhatian para akademisi terhadap tantangan pembangunan daerah, mulai dari pendidikan, pertanian, kelautan dan perikanan, lingkungan hidup, ekonomi, teknologi, ketenagalistrikan, hingga penguatan layanan pendidikan yang inklusif.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama Resmi Membuka Pekan Orasi Ilmiah
Rangkaian Pekan Orasi Ilmiah Universitas Borneo Tarakan Tahun 2026 diawali dengan kegiatan pembukaan resmi pada Senin, 26 Oktober 2026. Prosesi pembukaan menjadi penanda dimulainya rangkaian penyampaian orasi ilmiah yang dilaksanakan secara berkelanjutan selama tiga hari.
Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Dr. Heppi Iromo, S.Pi., M.Si., selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama Universitas Borneo Tarakan. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya menghadirkan ruang akademik yang memungkinkan hasil penelitian para dosen, khususnya yang telah menyelesaikan studi doktoral, dapat diketahui, dipahami, dan dimanfaatkan secara lebih luas.
Menurutnya, kegiatan seperti Pekan Orasi Ilmiah memiliki nilai penting karena memberikan kesempatan kepada para dosen untuk menyampaikan secara langsung hasil riset yang telah mereka lakukan. Penelitian yang sebelumnya dikembangkan dalam lingkungan akademik diharapkan dapat diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas dan menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Heppi Iromo menyampaikan:
“Tapi dengan kegiatan ini sepekan, paling lama tiga hari gitu ya, pagi siang pagi siang kita dengarkan narasi dosen-dosen kita yang telah menyelesaikan studi S3-nya dan kita dengarkan hasil risetnya ya. Jadi insyaallah kita mau ini benar-benar didapat hasil riset-riset bapak-bapak tadi yang sudah diselesaikan tadi bisa tersosialisasi ke masyarakat. Dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim, Pekan Orasi Ilmiah Universitas Borneo Tarakan Tahun 2026 kami buka.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penyelenggaraan Pekan Orasi Ilmiah tidak hanya dimaksudkan sebagai forum penyampaian hasil penelitian, tetapi juga sebagai sarana sosialisasi dan penyebarluasan pengetahuan yang dihasilkan oleh para akademisi Universitas Borneo Tarakan.
Melalui kegiatan ini, universitas berupaya memastikan bahwa proses pendidikan tinggi, khususnya pada jenjang doktoral, memiliki kesinambungan dengan pelaksanaan tridarma perguruan tinggi. Pengetahuan dan temuan ilmiah yang dihasilkan para dosen diharapkan mampu memperkaya proses pembelajaran, mendorong penelitian lanjutan, serta membuka peluang penerapan ilmu pengetahuan bagi kepentingan masyarakat dan pembangunan daerah.
Setelah prosesi pembukaan resmi pada hari pertama, kegiatan dilanjutkan dengan pelaksanaan orasi ilmiah sesuai pembagian sesi. Sementara itu, pada hari kedua dan ketiga, kegiatan langsung melanjutkan rangkaian orasi ilmiah yang telah dijadwalkan tanpa mengulang prosesi pembukaan resmi.
Hari Pertama: Mengangkat Inovasi Pendidikan, Ekonomi Perbatasan, Pertanian, dan Teknologi
Pelaksanaan hari pertama, Senin, 26 Oktober 2026, menghadirkan beragam pemikiran ilmiah dari dosen Universitas Borneo Tarakan. Sesi pagi yang dimulai setelah pembukaan resmi dipandu oleh Ricky Febrinaldy Simanjuntak, S.Pd., M.Si., selaku moderator, dengan menghadirkan lima orator yang membahas berbagai persoalan pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, ekonomi, serta inovasi pertanian.
Orasi pertama disampaikan oleh Dr. Ratno Achyani, S.Pi., M.Si., dengan topik “Pengembangan Model Pembelajaran Biologi IDEAL Etnosains Suku Tidung untuk Meningkatkan Environmental Attitude dan Literasi Sains Mahasiswa.” Topik ini memberikan perhatian pada pentingnya pengintegrasian pengetahuan lokal masyarakat Suku Tidung ke dalam pembelajaran biologi. Pendekatan tersebut memperlihatkan potensi kearifan lokal sebagai sumber pengembangan pembelajaran yang relevan dengan karakteristik daerah sekaligus sebagai upaya penguatan sikap peduli lingkungan dan literasi sains mahasiswa.
Selanjutnya, Dr. Nurul Hidayat, S.E., M.Sc., menyampaikan orasi bertajuk “Dari Pengetahuan Menjadi Inovasi: Membangun Budaya Belajar, Berkarya, dan Berdampak dari Perbatasan.” Melalui topik ini, perhatian diarahkan pada pentingnya mengembangkan pengetahuan menjadi inovasi dan karya nyata yang memiliki manfaat bagi masyarakat. Gagasan tersebut sejalan dengan kebutuhan perguruan tinggi untuk tidak hanya menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah, tetapi juga mendorong terciptanya solusi yang relevan dengan persoalan pembangunan.
Perspektif ekonomi regional turut mewarnai sesi pagi melalui orasi Dr. Margiyono, S.E., M.Si., dengan judul “Paradok Kalimantan Utara: Realita Kaya di Atas Kertas (Tantangan Transformasi Menuju Kesejahteraan Inklusif).” Topik tersebut mengangkat persoalan kesenjangan antara potensi kekayaan sumber daya yang dimiliki Kalimantan Utara dan tantangan dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara merata. Isu ini memiliki relevansi penting bagi pengembangan kebijakan ekonomi daerah yang berorientasi pada pertumbuhan inklusif dan keberlanjutan.
Berbeda dengan orator lainnya yang hadir secara langsung, Dr. Margiyono menyampaikan orasi ilmiahnya secara daring melalui Zoom Meeting karena sedang menjalankan tugas di luar daerah. Meskipun tidak dapat hadir secara fisik di lokasi kegiatan, hal tersebut tidak mengurangi partisipasi dan kontribusinya dalam membagikan hasil pemikiran ilmiah kepada peserta Pekan Orasi Ilmiah. Pemanfaatan teknologi konferensi virtual tersebut menjadi salah satu bentuk fleksibilitas pelaksanaan kegiatan akademik, sehingga penyampaian ilmu pengetahuan tetap dapat berlangsung di tengah tanggung jawab kedinasan yang sedang dijalankan.
Kehadiran Dr. Margiyono melalui Zoom Meeting juga menunjukkan bahwa aktivitas akademik dapat terus dilaksanakan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi. Dengan demikian, keterbatasan jarak dan lokasi tidak menjadi penghalang bagi dosen untuk berkontribusi dalam forum ilmiah yang diselenggarakan oleh universitas.
Di bidang pendidikan, Dr. Arifin, S.Pd., M.Pd., membawakan orasi berjudul “Melampaui Prestasi Akademik: Reorientasi Model Pendidikan untuk Membentuk Generasi Tangguh dan Berkarakter Menuju Indonesia Emas 2045.” Pembahasan tersebut menempatkan pendidikan sebagai instrumen strategis dalam pembentukan karakter, ketangguhan, serta kapasitas generasi muda untuk menghadapi tantangan masa depan.
Sesi pagi kemudian dilengkapi dengan orasi Dr. Nur Indah Mansyur, S.P., M.P., mengenai “Biochar Coated Urea (BCU): Teknologi Pupuk N Lepas Lambat (PLL) untuk Tanah Marginal Masam Wilayah Perbatasan.” Topik ini menyoroti pengembangan teknologi pemupukan yang berpotensi mendukung peningkatan produktivitas pertanian pada kondisi lahan marginal, khususnya di wilayah perbatasan yang memiliki karakteristik tanah dan tantangan budidaya tersendiri.
Rangkaian sesi pagi memperlihatkan bagaimana berbagai disiplin ilmu dapat saling melengkapi dalam membangun fondasi pengembangan daerah. Inovasi pembelajaran, penguatan karakter, transformasi ekonomi, serta penerapan teknologi pertanian merupakan bagian dari kontribusi keilmuan yang relevan dengan kebutuhan pembangunan Kalimantan Utara.
Setelah pelaksanaan orasi, dalam sesi tersebut turut dilaksanakan penyerahan plakat dan cendera mata oleh Dr. Heppi Iromo, S.Pi., M.Si., kepada para orator sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi atas kontribusi keilmuan yang telah dibagikan.
Memasuki sesi siang, kegiatan dilanjutkan dengan menghadirkan lima orator berikutnya yang dipandu oleh Yogho Prastyo, S.Pd., M.Sc., selaku moderator.
Pada sesi ini, Dr. Syahfrizal Tahcfulloh, S.T., M.T., menyampaikan orasi bertajuk “Menolak ‘Copy-Paste’ Teknologi Global: Kedaulatan Data dan Smart Agriculture Berbasis Kearifan Lingkungan Tropis di Beranda Negara.” Tema tersebut mengangkat pentingnya pengembangan teknologi yang memperhatikan karakteristik lokal dan kebutuhan daerah, termasuk penerapan pertanian cerdas yang sesuai dengan kondisi lingkungan tropis.
Selanjutnya, Dr. Titik Ismandari, S.P., M.Sc., mengangkat tema “Karamunting: Dari Gulma Lahan Kritis Menjadi Sumber Antioksidan Alami Bernilai Tambah.” Topik ini memperlihatkan potensi pemanfaatan sumber daya hayati lokal melalui pendekatan ilmiah sehingga tanaman yang sebelumnya dipandang memiliki manfaat terbatas dapat dikaji sebagai sumber bahan alami bernilai ekonomi.
Di bidang teknologi ketenagalistrikan, Dr. Ismit Mado, S.T., M.T., menyampaikan orasi mengenai “Perancangan Kendali Fuzzy Model Predictive Control Berbasis Model Time Series Analitik dalam Meningkatkan Kestabilan Dinamik Sistem Pembangkit Tenaga Listrik.” Pembahasan ini memberikan perspektif mengenai pengembangan pendekatan pengendalian untuk menunjang kestabilan sistem pembangkitan listrik.
Sementara itu, Dr. Amrullah Taqwa, S.T., M.Si., menghadirkan kajian “Bioekologi Nomei (Harpodon nehereus) Perairan Tarakan.” Topik tersebut memiliki keterkaitan erat dengan karakteristik sumber daya perikanan lokal dan pentingnya pemahaman ilmiah terhadap ekologi biota perairan sebagai dasar pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.
Orasi lainnya disampaikan oleh Dr. Ahmad Mubarak, S.T., M.Si., melalui tema “Kewirausahaan Sosial Petani untuk Pembangunan Ekonomi Wilayah Perbatasan Kalimantan Utara.” Kajian ini menempatkan kewirausahaan sosial sebagai salah satu perspektif dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat pertanian, khususnya di daerah perbatasan.
Sebagaimana pelaksanaan pada sesi pagi, sesi siang hari pertama juga disertai dengan penyerahan plakat dan cendera mata kepada kelima orator oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama Universitas Borneo Tarakan, Dr. Heppi Iromo. Penyerahan tersebut menjadi bentuk penghargaan institusi terhadap kontribusi para dosen dalam memperluas cakrawala pengetahuan dan memperkuat budaya ilmiah di lingkungan universitas.
Hari Kedua: Memperkuat Inovasi Pembelajaran, Keberlanjutan Lingkungan, dan Ekosistem Pesisir
Memasuki hari kedua, Selasa, 27 Oktober 2026, Pekan Orasi Ilmiah Universitas Borneo Tarakan dilanjutkan secara langsung melalui sesi pagi dan sesi siang. Tanpa pelaksanaan pembukaan resmi kembali, kegiatan difokuskan pada penyampaian gagasan ilmiah oleh para orator serta penguatan diskusi akademik sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.
Sesi pagi dipandu oleh Doris Noviani, S.ST., M.Keb., selaku moderator, dengan menghadirkan lima orator yang menitikberatkan pembahasan pada pengembangan pendekatan dan model pembelajaran, pendidikan karakter, kemampuan berpikir, serta pembangunan kompetensi pendidik.
Dr. Ahsan Sofyan, S.E., M.Pd., menyampaikan orasi mengenai “Pengembangan Pendekatan Open-Ended Berbasis Teori Belajar Bermakna dalam Pembelajaran IPS untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa SD di Kalimantan Utara.” Kajian ini mengangkat pentingnya pengembangan strategi pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga mendukung kemampuan peserta didik dalam menganalisis, menalar, dan menyelesaikan persoalan.
Perspektif pertanian berkelanjutan kemudian dihadirkan melalui orasi Abdul Rahim, S.P., M.Si., Ph.D., dengan judul “Pengendalian Hayati Berbasis Pengetahuan Ekologi Semut Rangrang Mendukung Pertanian Berkelanjutan.” Topik tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan ekologi dalam pengembangan sistem pertanian yang lebih memperhatikan keseimbangan lingkungan.
Sementara itu, Dr. Shinta Wulandari, S.Si., M.Pd., menyampaikan orasi bertajuk “Dari Mengenali Bentuk Menuju Berpikir Spasial: Inovasi Pembelajaran Geometri melalui Model Imajistik.” Pembahasan ini memberikan perhatian pada penguatan kemampuan berpikir spasial sebagai aspek penting dalam pembelajaran matematika.
Orasi berikutnya disampaikan oleh Dr. Arief Ertha Kusuma, S.Pd., M.Pd., mengenai “Pengembangan Model Pembelajaran Read Outline Discussion Evaluation (RODE) untuk Melatihkan Keterampilan Komunikasi Mahasiswa.” Melalui kajian tersebut, pengembangan model pembelajaran ditempatkan sebagai sarana untuk meningkatkan keterampilan komunikasi yang dibutuhkan mahasiswa dalam proses akademik maupun kehidupan profesional.
Melengkapi sesi pagi, Dr. Firima Zona Tanjung, S.S., M.Pd., menyampaikan orasi bertajuk “Becoming an English Teacher: Professional Identity Construction in the Journey from Pre-Service to Practice.” Topik ini membahas konstruksi identitas profesional guru bahasa Inggris dalam proses transisi dari masa persiapan pendidikan menuju praktik profesional.
Rangkaian orasi sesi pagi pada hari kedua memperlihatkan perhatian besar para akademisi Universitas Borneo Tarakan terhadap penguatan kualitas pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia. Pengembangan pembelajaran yang adaptif, keterampilan berpikir tingkat tinggi, komunikasi, serta profesionalisme pendidik menjadi bagian penting dalam merespons perubahan kebutuhan dunia pendidikan.
Pada sesi tersebut, Dr. Heppi Iromo kembali melaksanakan penyerahan plakat dan cendera mata kepada lima orator sebagai apresiasi atas partisipasi dan sumbangsih pemikiran ilmiah yang telah disampaikan.
Kegiatan kemudian berlanjut pada sesi siang yang dipandu oleh Suryaningsih, S.E., M.M., selaku moderator. Dalam sesi ini, perhatian akademik diarahkan pada sejumlah isu yang berkaitan dengan pencemaran lingkungan, ekologi pesisir, pendidikan matematika, pembelajaran bahasa, serta inovasi pembelajaran biologi.
Dr. Alfi Suciati, S.Pd., M.Pd., menyampaikan orasi “Dari Sungai ke Laut: Jejak Mikroplastik, Dinamika Pencemaran, dan Masa Depan Ekosistem Perairan Kalimantan Utara.” Topik ini mengangkat salah satu tantangan penting dalam pengelolaan lingkungan perairan, yakni keberadaan mikroplastik dan keterkaitannya dengan pencemaran serta keberlanjutan ekosistem.
Selanjutnya, Dr. Enditiyas Pratiwi, S.Si., M.Pd., membawakan kajian “Textual and Contextual Commognitive Conflict Student in Solving an Improper Fraction.” Tema ini menghadirkan perspektif dalam pendidikan matematika, khususnya mengenai proses komunikasi dan pemahaman konseptual peserta didik ketika menghadapi persoalan pecahan.
Isu kelautan dan konservasi ekosistem pesisir turut menjadi perhatian melalui orasi Dr. Muhamad Roem, S.Kel., M.Si., dengan judul “Dilema Keberlanjutan Ekologi Padang Lamun di Tengah Antropogenisasi Wisata Bahari: Evaluasi Multidimensional dan Strategi Pengelolaan di Kepulauan Derawan.” Topik tersebut menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara perkembangan aktivitas wisata bahari dan perlindungan ekosistem padang lamun.
Pada bidang pembelajaran bahasa Inggris, Dr. Woro Kusmaryani, S.Pd., M.Pd., menyampaikan orasi tentang “Pengaruh Aplikasi Mobile terhadap Kemampuan Berbicara dan Berpikir Kritis Mahasiswa dalam Pembelajaran Bahasa Inggris.” Kajian ini memberikan perhatian pada pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung peningkatan keterampilan bahasa dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Sesi siang juga menghadirkan orasi Dr. Silfia Ilma, S.Pd., M.Pd., bertajuk “Dari Prediksi Menuju Kreasi: Transformasi Pembelajaran Biologi melalui Model POE Berbasis Proyek untuk Membangun Generasi Reflektif, Kolaboratif, dan Kreatif.” Topik tersebut menekankan pentingnya pembelajaran yang mendorong keterlibatan aktif peserta didik, kemampuan bekerja sama, refleksi, serta kreativitas.
Keberagaman pembahasan pada hari kedua menunjukkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan memiliki hubungan yang erat dengan persoalan nyata di masyarakat. Isu pencemaran perairan, pelestarian ekosistem pesisir, transformasi pendidikan, dan penggunaan teknologi dalam pembelajaran merupakan tantangan yang memerlukan pendekatan berbasis penelitian.
Sebagai bagian dari rangkaian sesi siang, Dr. Heppi Iromo turut menyerahkan plakat dan cendera mata kepada kelima orator. Kegiatan apresiasi tersebut memperkuat semangat penghargaan terhadap karya ilmiah dan dedikasi dosen dalam mengembangkan penelitian yang memiliki relevansi dengan kebutuhan masyarakat.
Hari Ketiga: Menghadirkan Solusi Ketenagalistrikan, Pertanian, Pendidikan, dan Inklusivitas Kampus
Pada Rabu, 28 Oktober 2026, Pekan Orasi Ilmiah Universitas Borneo Tarakan memasuki hari ketiga. Sebagaimana hari kedua, kegiatan langsung dilanjutkan melalui sesi orasi ilmiah tanpa prosesi pembukaan resmi. Rangkaian kegiatan tetap dilaksanakan dengan pembagian sesi pagi dan siang, masing-masing menghadirkan lima orator.
Sesi pagi dipandu oleh Ika Noviantari, S.Si., M.Pd., selaku moderator, dengan pembahasan yang mencakup pengembangan sistem energi, pendidikan calon guru, produktivitas pertanian, dan penguatan ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan.
Salah satu orasi disampaikan oleh Dr. Patria Julianto, S.T., M.T., dengan judul “Menjaga Fleksibilitas Sistem Tenaga Listrik di Era Penetrasi PV Tinggi: Mitigasi Duck Curve melalui Dynamic Dispatch dan Penyimpanan Energi.” Topik tersebut memberikan perhatian terhadap tantangan pengelolaan sistem tenaga listrik seiring berkembangnya pemanfaatan energi surya dan kebutuhan menjaga fleksibilitas serta kestabilan pasokan energi.
Dalam bidang pendidikan guru, Dr. Listiani, S.Si., M.A., mengangkat topik “Peran LPTK dalam Mendukung Pengembangan Kompetensi Calon Guru.” Pembahasan ini menempatkan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan sebagai unsur penting dalam mempersiapkan calon pendidik yang kompeten, profesional, dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan kebutuhan pendidikan.
Selanjutnya, Dr. Siti Zahara, S.P., M.P., membawakan orasi bertajuk “Peningkatan Produktivitas Tomat di Lahan Suboptimal Kalimantan Utara melalui Ekstensifikasi Adaptif dan Pemuliaan Toleran Mangan.” Topik tersebut menunjukkan perhatian terhadap upaya peningkatan produktivitas pertanian melalui pendekatan ilmiah yang disesuaikan dengan kondisi lahan dan lingkungan di Kalimantan Utara.
Persoalan ekonomi petani di wilayah perbatasan turut mendapat perhatian melalui orasi Dr. Dewi Elviana Cahyaning, S.P., M.Si., berjudul “Dari Petani Penerima Harga Menuju Komunitas Penentu Nilai: Transformasi Jaringan Pemasaran Kakao di Wilayah Perbatasan Indonesia–Malaysia: Pembelajaran dari Pulau Sebatik.” Kajian tersebut mengangkat pentingnya penguatan posisi petani dan transformasi jaringan pemasaran sebagai bagian dari upaya peningkatan nilai ekonomi komoditas pertanian di wilayah perbatasan.
Berbagai orasi yang ditampilkan pada hari ketiga memperlihatkan bahwa pengembangan penelitian di Universitas Borneo Tarakan tidak terbatas pada peningkatan kapasitas akademik semata. Persoalan strategis, seperti transisi energi, ketahanan pertanian, peningkatan kesejahteraan petani, dan kualitas pendidikan, menjadi bagian dari perhatian para akademisi dalam mengembangkan keilmuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Sebagai bentuk penghargaan kepada para orator, sesi pagi hari ketiga juga dilengkapi dengan penyerahan plakat dan cendera mata oleh Dr. Heppi Iromo, S.Pi., M.Si., kepada lima dosen yang telah berpartisipasi dalam sesi tersebut.
Rangkaian Pekan Orasi Ilmiah kemudian dilanjutkan pada sesi siang hari ketiga dengan menghadirkan lima orator sebagaimana pola pelaksanaan pada sesi-sesi sebelumnya. Sesi ini menjadi bagian akhir dari rangkaian penyampaian orasi ilmiah yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut.
Salah satu momen pada bagian akhir kegiatan adalah penyampaian orasi ilmiah oleh Dr. Siti Maliha, S.Psi., M.Psi., yang tampil sebagai orator paling terakhir dalam keseluruhan rangkaian Pekan Orasi Ilmiah Universitas Borneo Tarakan Tahun 2026. Beliau mengangkat topik “Dari Belajar Sendirian Menuju Kampus yang Menyertai: Urgensi Unit Layanan Disabilitas bagi Mahasiswa dengan Disabilitas Intelektual di Universitas Borneo Tarakan.”
Berbeda dengan sebagian besar orator yang hadir secara langsung, Dr. Siti Maliha menyampaikan orasi ilmiahnya melalui video rekaman karena sedang berada di luar daerah. Meskipun berhalangan hadir secara fisik, beliau tetap berpartisipasi dalam kegiatan dengan menghadirkan materi orasi yang telah dipersiapkan sebelumnya melalui media audiovisual.
Orasi ilmiah tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan karena mengangkat persoalan mengenai aksesibilitas dan penguatan layanan pendidikan tinggi yang inklusif, khususnya bagi mahasiswa penyandang disabilitas intelektual.
Melalui topik yang disampaikan, perhatian diarahkan pada pentingnya membangun lingkungan perguruan tinggi yang tidak hanya memberikan akses pendidikan, tetapi juga mampu menghadirkan dukungan akademik dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Keberadaan Unit Layanan Disabilitas menjadi salah satu aspek yang relevan untuk dikaji dalam upaya mewujudkan kampus yang semakin inklusif, ramah, dan memberikan kesempatan belajar secara setara.
Penempatan orasi Dr. Siti Maliha sebagai penyampaian ilmiah paling terakhir sekaligus menghadirkan perspektif sosial dan kemanusiaan dalam rangkaian kegiatan yang sebelumnya telah membahas berbagai disiplin ilmu. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan tidak hanya berkaitan dengan inovasi teknologi, produktivitas ekonomi, atau pengelolaan sumber daya alam, tetapi juga dengan upaya meningkatkan kualitas kehidupan manusia melalui pendidikan yang berkeadilan.
Penggunaan video rekaman dalam penyampaian orasi tersebut turut memperlihatkan fleksibilitas penyelenggaraan Pekan Orasi Ilmiah dalam mengakomodasi kondisi para dosen. Dengan dukungan teknologi audiovisual, kontribusi akademik tetap dapat disampaikan dan menjadi bagian dari forum ilmiah meskipun orator tidak berada secara langsung di lokasi kegiatan.
Pada sesi terakhir tersebut, penyerahan plakat dan cendera mata kembali dilakukan oleh Dr. Heppi Iromo kepada kelima orator sebagai wujud apresiasi atas kontribusi mereka dalam mendukung pengembangan tradisi akademik dan penyebarluasan pengetahuan di lingkungan Universitas Borneo Tarakan.
Pemanfaatan Teknologi Memastikan Kelancaran Diseminasi Hasil Penelitian
Penyelenggaraan Pekan Orasi Ilmiah Universitas Borneo Tarakan Tahun 2026 juga memperlihatkan pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana pendukung pelaksanaan kegiatan akademik. Hal ini tercermin melalui keikutsertaan dua orator yang menyampaikan materi tanpa hadir secara langsung di lokasi kegiatan.
Pada hari pertama, Dr. Margiyono, S.E., M.Si., menyampaikan orasinya secara daring melalui Zoom Meeting karena sedang melaksanakan tugas di luar daerah. Sementara itu, pada hari terakhir, Dr. Siti Maliha, S.Psi., M.Psi., menyampaikan orasi melalui video rekaman karena sedang berada di luar daerah dan menjadi orator paling terakhir dalam keseluruhan rangkaian kegiatan.
Kedua bentuk penyampaian tersebut menunjukkan bahwa kegiatan akademik dapat dirancang secara fleksibel tanpa mengesampingkan tujuan utama penyelenggaraan, yakni memberikan kesempatan kepada para dosen untuk berbagi ilmu pengetahuan dan memperkenalkan hasil penelitian kepada khalayak.
Pemanfaatan Zoom Meeting memungkinkan penyampaian materi secara langsung dari lokasi yang berbeda, sedangkan video rekaman menjadi alternatif yang dapat digunakan ketika kehadiran secara langsung maupun daring pada waktu pelaksanaan tidak memungkinkan.
Dalam konteks pengembangan perguruan tinggi modern, pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi memiliki peran penting dalam mendukung keberlanjutan aktivitas akademik. Jarak geografis dan tanggung jawab kedinasan tidak harus menjadi hambatan bagi dosen untuk tetap berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan.
Fleksibilitas tersebut sekaligus mencerminkan kemampuan institusi dalam memanfaatkan sarana digital untuk mendukung penyelenggaraan forum ilmiah yang lebih adaptif terhadap berbagai kondisi.
Penyerahan Plakat dan Cendera Mata sebagai Apresiasi terhadap Kontribusi Ilmiah Dosen
Salah satu bagian penting dalam penyelenggaraan Pekan Orasi Ilmiah Universitas Borneo Tarakan Tahun 2026 adalah pemberian penghargaan kepada para orator yang berpartisipasi dalam setiap sesi.
Penyerahan plakat dan cendera mata dilaksanakan oleh Dr. Heppi Iromo, S.Pi., M.Si., Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama Universitas Borneo Tarakan, kepada lima orator pada masing-masing sesi, baik pagi maupun siang, sepanjang tiga hari penyelenggaraan.
Pemberian plakat dan cendera mata tersebut menjadi simbol penghormatan serta apresiasi institusi terhadap dedikasi para dosen dalam menempuh pendidikan doktoral, menghasilkan karya ilmiah, dan membagikan pengetahuan kepada lingkungan akademik.
Penghargaan ini juga mencerminkan pentingnya membangun iklim akademik yang memberikan ruang dan pengakuan terhadap pencapaian keilmuan dosen. Dengan demikian, aktivitas penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dapat terus tumbuh sebagai bagian dari budaya kelembagaan.
Lebih dari sekadar kegiatan seremonial, penyerahan penghargaan pada setiap sesi diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi para dosen untuk terus mengembangkan kompetensi, memperluas jejaring penelitian, menghasilkan inovasi, serta meningkatkan kualitas kontribusi akademik bagi universitas dan masyarakat.
Pelaksanaan penyerahan penghargaan yang dilakukan pada setiap sesi juga menjadi bagian dari upaya memberikan perhatian yang setara kepada seluruh orator. Setiap dosen memperoleh kesempatan untuk menyampaikan hasil pemikiran ilmiahnya sekaligus mendapatkan apresiasi atas kontribusi tersebut.
Memperluas Manfaat Hasil Penelitian bagi Masyarakat dan Pembangunan Wilayah Perbatasan
Penyelenggaraan Pekan Orasi Ilmiah Universitas Borneo Tarakan Tahun 2026 memiliki makna strategis dalam mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya pada aspek pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Sebagai institusi pendidikan tinggi yang berada di wilayah perbatasan Indonesia, Universitas Borneo Tarakan memiliki posisi penting dalam menghasilkan pengetahuan yang relevan dengan karakteristik dan kebutuhan pembangunan daerah.
Wilayah Kalimantan Utara memiliki kekayaan sumber daya alam, keanekaragaman hayati, potensi kelautan dan perikanan, sumber daya pertanian, serta karakteristik sosial dan ekonomi yang khas. Di sisi lain, berbagai potensi tersebut juga dihadapkan pada tantangan yang memerlukan perhatian dan pendekatan ilmiah secara berkelanjutan.
Melalui Pekan Orasi Ilmiah, berbagai tantangan tersebut memperoleh ruang pembahasan dari perspektif disiplin ilmu yang berbeda. Para dosen memiliki kesempatan untuk memperkenalkan gagasan dan pendekatan penelitian yang dapat menjadi referensi bagi pengembangan pendidikan, kebijakan, teknologi, maupun praktik pembangunan yang lebih adaptif terhadap kondisi lokal.
Beragam judul orasi yang ditampilkan selama kegiatan juga memperlihatkan perhatian akademisi terhadap persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Kalimantan Utara. Penelitian mengenai pemanfaatan potensi tanaman lokal, pengelolaan ekosistem perairan, peningkatan produktivitas pertanian, penguatan perekonomian petani, pendidikan berbasis kearifan lokal, hingga pengembangan energi merupakan contoh kajian yang relevan dengan kebutuhan wilayah.
Pada bidang pendidikan, hasil riset yang diperkenalkan dapat menjadi sumber inspirasi dalam memperbarui pendekatan pembelajaran, memperkuat kompetensi pendidik, dan menghadirkan proses pendidikan yang semakin bermakna. Sementara pada bidang pertanian dan lingkungan, berbagai kajian membuka ruang bagi pengembangan pendekatan pengelolaan sumber daya yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan.
Dalam bidang teknologi dan energi, hasil penelitian dapat memperkaya pemahaman mengenai pentingnya inovasi sistem yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan tantangan modern. Adapun dalam bidang ekonomi dan sosial, pemikiran ilmiah yang disampaikan dapat memberikan perspektif tambahan mengenai penguatan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan di daerah perbatasan.
Keberagaman tersebut mencerminkan bahwa Universitas Borneo Tarakan memiliki sumber daya akademik lintas disiplin yang dapat diarahkan untuk mendukung pembangunan daerah melalui pendekatan berbasis pengetahuan.
Selain memperkenalkan hasil riset, kegiatan ini juga memberikan ruang bagi terbangunnya komunikasi ilmiah antardosen dari berbagai bidang keahlian. Pertukaran pandangan dan diskusi akademik menjadi bagian penting dalam mendorong munculnya gagasan penelitian baru, memperluas kemungkinan kerja sama lintas disiplin, serta memperkuat ekosistem penelitian universitas.
Memperkuat Identitas UBT sebagai Perguruan Tinggi Berbasis Riset di Wilayah Perbatasan
Pelaksanaan Pekan Orasi Ilmiah Tahun 2026 sekaligus menunjukkan upaya Universitas Borneo Tarakan dalam memperkuat peran dan identitas kelembagaannya sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi.
Peningkatan kualifikasi akademik dosen melalui pendidikan doktoral merupakan salah satu unsur penting dalam pengembangan mutu perguruan tinggi. Akan tetapi, peningkatan kualifikasi tersebut perlu diikuti dengan kegiatan yang memungkinkan hasil-hasil penelitian dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, Pekan Orasi Ilmiah menjadi sarana untuk menghubungkan pencapaian akademik individual dengan kebutuhan pengembangan institusi. Pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan doktoral tidak berhenti sebagai capaian personal, melainkan diperkenalkan sebagai bagian dari kekayaan intelektual yang dimiliki universitas.
Forum ini juga diharapkan dapat mendorong tumbuhnya budaya berbagi pengetahuan dan memperkuat kesadaran bahwa penelitian memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat.
Bagi mahasiswa, keberadaan forum ilmiah semacam ini dapat menjadi sumber inspirasi untuk membangun minat terhadap penelitian, memperluas wawasan akademik, serta memahami hubungan antara teori yang dipelajari dan berbagai persoalan nyata. Sementara bagi tenaga pendidik, kegiatan ini membuka kesempatan untuk memperluas perspektif, mengembangkan dialog keilmuan, dan menjajaki kemungkinan kolaborasi penelitian.
Lebih jauh, penguatan budaya riset juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing institusi pendidikan tinggi. Kemampuan menghasilkan karya ilmiah yang relevan, mengembangkan inovasi, serta membangun hubungan antara pengetahuan dan kebutuhan masyarakat merupakan unsur yang mendukung penguatan kualitas dan reputasi akademik universitas.
Melalui kegiatan ini, Universitas Borneo Tarakan berupaya menumbuhkan lingkungan akademik yang semakin terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, sekaligus memberikan ruang bagi para dosen untuk terus berkontribusi melalui keahlian yang dimiliki.
Mendorong Keberlanjutan Diseminasi Ilmu Pengetahuan dan Inovasi
Pekan Orasi Ilmiah Universitas Borneo Tarakan Tahun 2026 tidak hanya memiliki arti penting selama pelaksanaan kegiatan, tetapi juga diharapkan memberikan dampak jangka panjang terhadap pengembangan budaya penelitian di lingkungan kampus.
Hasil pemikiran dan kajian yang diperkenalkan melalui forum ini dapat menjadi titik awal bagi upaya memperluas pemanfaatan hasil penelitian. Diseminasi ilmu pengetahuan merupakan langkah penting agar karya akademik dapat dipahami oleh lebih banyak pihak dan memperoleh kesempatan untuk dikembangkan pada tahap berikutnya.
Hal tersebut sejalan dengan penekanan Dr. Heppi Iromo pada saat pembukaan kegiatan, yakni pentingnya memastikan hasil riset para dosen yang telah menyelesaikan studi doktoral dapat tersosialisasi kepada masyarakat.
Pesan tersebut menjadi salah satu landasan penting dalam memaknai penyelenggaraan Pekan Orasi Ilmiah. Keberhasilan pendidikan doktoral bukan hanya ditunjukkan melalui pencapaian gelar akademik, tetapi juga melalui kemampuan untuk menyumbangkan pemikiran, menghasilkan pengetahuan baru, dan menghadirkan kontribusi yang relevan bagi lingkungan sekitar.
Dengan beragam bidang keilmuan yang ditampilkan, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antara pengembangan sumber daya manusia akademik dan kebutuhan pembangunan wilayah perbatasan.
Penyelenggaraan forum ilmiah yang terstruktur juga membuka ruang bagi universitas untuk terus membangun tradisi akademik yang menghargai penelitian, mengedepankan diskusi ilmiah, serta mendorong penyebarluasan pengetahuan secara berkelanjutan. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi penggerak bagi lahirnya lebih banyak penelitian, inovasi, dan kolaborasi keilmuan yang memberikan kontribusi bagi kemajuan pendidikan tinggi dan pembangunan wilayah, khususnya di Kalimantan Utara.
Dengan semangat pengembangan ilmu pengetahuan yang berangkat dari kebutuhan dan karakteristik daerah, Universitas Borneo Tarakan terus berupaya memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia, penelitian, dan inovasi yang mampu menghadirkan kontribusi nyata dari wilayah perbatasan untuk kemajuan Indonesia.




