
TARAKAN, 13 Mei 2026 – Universitas Borneo Tarakan (UBT) bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) dan James Cook University (JCU) Australia sukses menyelenggarakan acara “Workshop on Conservation Planning for the Ganges Shark (Glyphis gangeticus)” atau Lokakarya tentang Perencanaan Konservasi Hiu Gangga. Acara berskala internasional ini diselenggarakan pada hari Rabu, 13 Mei 2026, bertempat di Ruang Rektorat UBT Lantai 4.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh temuan penting terkait hiu air tawar berjenis Glyphis sp. yang terancam punah secara global, namun ternyata masih ditemukan dan hidup di perairan pesisir dan sungai di Kalimantan Utara, khususnya di Sungai Sesayap. Menyadari besarnya nilai ekologis dari temuan tersebut, lokakarya ini mempertemukan para akademisi, peneliti, dan pembuat kebijakan untuk merumuskan langkah-langkah pelestariannya.
Acara dibuka dengan sambutan dari Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UBT, Dr. Asbar Laga, S.T., M.Si., yang pada kesempatan ini mewakili Rektor UBT. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa penemuan spesies yang sebelumnya dianggap sangat kritis kelangsungan hidupnya ini merupakan keajaiban ilmiah sekaligus tantangan besar bagi semua pihak untuk memastikan spesies tersebut tidak mengalami kepunahan.
Turut hadir memberikan sambutan, Prof. Dr. Ir. Rohani Ambo Rappe, M.Si. dari Universitas Hasanuddin yang memaparkan bahwa kerja sama riset terkait hiu dan pari antara Unhas dan JCU telah terjalin erat sejak tahun 2022. Beliau juga mengajak berbagai universitas di wilayah Kalimantan, termasuk UBT, untuk bergabung membentuk konsorsium penelitian guna memaksimalkan upaya studi dan konservasi hiu dan pari di kawasan ini.
Tingginya Tekanan Eksploitasi dan Pentingnya Sungai Sesayap
Dalam sesi pemaparan ahli, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik, Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP RI, Bapak Sarmintohadi, S.Pi., M.Si., memaparkan data yang memerlukan perhatian segera. Data pemanfaatan menunjukkan bahwa produk turunan dari genus Glyphis di Tarakan dimanfaatkan dalam jumlah besar; sejak tahun 2023 hingga 2026, tercatat pemanfaatan sebesar 11.577 kg untuk produk daging dan 349,9 kg untuk sirip.
Tingginya intensitas tangkapan ini membuktikan bahwa sistem Sungai Sesayap dan wilayah estuari sekitarnya berfungsi sebagai habitat yang sangat krusial bagi hiu sungai. Bapak Sarmintohadi juga menyoroti urgensi perlindungan nasional, mengingat genus Glyphis telah resmi dimasukkan ke dalam Appendiks II CITES, sebuah regulasi perdagangan internasional yang akan berlaku efektif pada tanggal 25 Mei 2025.

Pemaparan Kajian Genetik dan Pengelolaan Spesies
Lokakarya ini menghadirkan diskusi mendalam yang dipandu oleh sejumlah pakar terkemuka, di antaranya:
Dr. Michael Grant (James Cook University), yang memberikan pengantar komprehensif mengenai pentingnya Glyphis gangeticus serta tujuan dari proyek konservasi yang sedang berjalan.
Andhika Prima Prasetyo, Ph.D. dan Fahmi, Ph.D. (Badan Riset dan Inovasi Nasional RI – BRIN), yang mempresentasikan riset genetika hiu air tawar di Kalimantan dan pemetaan status konservasi hiu serta pari di Indonesia.
Deden Solihin, S.Pi., M.Si. (Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, KKP), yang memberikan gambaran menyeluruh mengenai aktivitas manajemen konservasi spesies di wilayah Kalimantan Utara.
Benaya M. Simeon (Kandidat Ph.D. dari Charles Darwin University), yang turut memberikan arahan serta memandu sesi perkenalan dan strategi perlindungan nasional.
Selain hiu, peneliti dari FPIK UBT, Syamsidar Gaffar, S.Kel., M.Si., dan Gandri Haryono, S.Kel., M.P., turut mempresentasikan hasil studi molekuler pada Pari Sungai Raksasa (Urogymnus polylepis) yang juga berhabitat di Sungai Sesayap. Spesies rentan ini diketahui telah mengalami penurunan variasi genetik di alam. Masyarakat lokal kerap memanfaatkannya menjadi produk kuliner bernilai ekonomi, seperti olahan pari asap dan sambal pari asap yang dijual di pasaran. Hal ini menambah urgensi pengelolaan perikanan yang terukur dan berkelanjutan di sungai tersebut.
Lokakarya diakhiri dengan kesepakatan mengenai perlunya sinergi dan kolaborasi multisektoral. Universitas Borneo Tarakan bersama seluruh mitra berkomitmen untuk terus mendukung penelitian, perlindungan habitat mangrove dan estuari dari degradasi, serta mendampingi pemerintah dalam menyusun regulasi perlindungan yang dapat menjamin kelestarian hiu dan pari endemik di perairan Kalimantan Utara.

